barisanpelopor.com/ Jakarta, – Harga kelapa bulat di dalam negeri tiba-tiba meroket hingga 50% dalam sepekan, memicu kekhawatiran pelaku industri dan konsumen. Kenaikan drastis ini disebut dipicu melonjaknya permintaan ekspor, terutama dari China, yang menggeser stok domestik.
Harga Tembus Rp15 Ribu per Butir, Pedagang Pasar Senen Kelimpungan
Pantauan Barisanpelopor.com di Pasar Senen, Jakarta Pusat (18/3/2025), menunjukkan harga kelapa bulat melesat dari Rp 9.500 menjadi Rp13.000 per butir. Pedagang mengeluh stok menipis karena banyak produk dialihkan ke pasar ekspor. “Biasanya mudah dapat barang, sekarang susah. Ekspor naik, dalam negeri jadi keteteran,” ujar salah seorang pedagang.
Menteri Perdagangan: Ekspor dan Industri Domestik Berebut Stok
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengonfirmasi bahwa tingginya permintaan global menjadi penyebab utama kelangkaan. “Ekspor meningkat signifikan, sementara permintaan industri dalam negeri juga tinggi. Ini membuat persaingan stok semakin ketat.”
China Borong Kelapa Indonesia untuk Santan Pengganti Susu
Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkapkan fakta mengejutkan: China menjadi salah satu kontributor utama krisis ini. “Permintaan China meledak karena tren santan sebagai pengganti susu. Mereka mengimpor kelapa kita untuk diolah jadi santan kemasan,” papar Zulhas dalam CNBC Indonesia Economic Outlook 2025 (26/2/2025).
Fenomena ini sejalan dengan perubahan gaya hidup sehat di China, di mana santan kelapa kini menjadi primadona untuk kopi dan masakan. “Orang China sekarang lebih memilih santan ketimbang susu sapi. Ini peluang sekaligus tantangan bagi kita,” imbuhnya.
Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi
Untuk mencegah krisis berlarut, pemerintah akan memetakan ulang kuota ekspor dan memperkuat pasokan dalam negeri. Langkah ini diharap bisa menekan kenaikan harga sembari menjaga pendapatan petani. Namun, pengamat memperingatkan perlunya strategi jangka panjang, seperti meningkatkan produktivitas kebun kelapa dan diversifikasi produk olahan.