barisanpelopor.com/ Nasional- 25 Oktober 2023 – Cuaca ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia dalam sebulan terakhir telah menimbulkan dampak serius terhadap sektor pertanian. Berdasarkan data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini dipicu oleh anomali iklim yang menyebabkan curah hujan tinggi di beberapa daerah dan kekeringan ekstrem di wilayah lainnya. Akibatnya, ribuan hektar lahan pertanian rusak, dan ancaman krisis pangan mulai menghantui.
Banjir dan Curah Hujan Tinggi: Petani di Jawa Barat dan Sumatera Selatan Terpuruk
Berdasarkan data BMKG, curah hujan di Jawa Barat mencapai 150-200 mm/hari dalam sepekan terakhir, jauh melampaui rata-rata normal. Banjir yang melanda Kabupaten Subang, misalnya, telah merendam lebih dari 2.000 hektar sawah. Ahmad, seorang petani di Desa Cipunagara, Subang, mengaku kehilangan hampir separuh dari hasil panennya. “Tanaman padi kami sudah siap panen, tiba-tiba banjir datang dan merusak semuanya. Kami bingung harus mulai dari mana lagi,” keluhnya.
Situasi serupa terjadi di Sumatera Selatan, di mana banjir telah merendam lebih dari 5.000 hektar lahan pertanian. Petani di Kabupaten Ogan Ilir mengeluhkan kerugian mencapai miliaran rupiah. “Ini musim tanam kedua kami yang gagal karena banjir. Kalau terus begini, kami tidak bisa menghidupi keluarga,” ujar Siti, seorang ibu rumah tangga yang juga membantu suaminya bertani.
Kekeringan Ekstrem di NTT dan Jawa Timur: Lahan Pertanian Mengering
Sementara itu, di wilayah timur Indonesia, kekeringan ekstrem justru menjadi ancaman serius. BMKG mencatat, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sebagian Jawa Timur mengalami defisit curah hujan hingga 70% dalam sebulan terakhir. Petani di Flores, NTT, mengeluhkan gagal panen akibat kekurangan air irigasi. “Kami sudah menanam jagung, tapi karena tidak ada hujan, tanaman kami mati sebelum panen. Kami tidak punya cadangan air lagi,” kata Maria, seorang petani di Kabupaten Sikka.
Di Jawa Timur, kekeringan bahkan memicu kebakaran lahan. Lebih dari 500 hektar lahan pertanian di Kabupaten Bojonegoro dilaporkan terbakar. “Kami kehilangan semua tanaman jagung dan kedelai. Ini kerugian besar bagi kami,” ujar Budi, seorang petani setempat.
Ancaman Krisis Pangan Nasional: Harga Beras dan Jagung Mulai Naik
Kombinasi banjir dan kekeringan ini mengancam stabilitas pangan nasional. Kementerian Pertanian memperkirakan, jika cuaca ekstrem terus berlanjut, produksi padi nasional bisa turun hingga 15% pada kuartal terakhir tahun 2023. Hal ini berpotensi memicu kenaikan harga bahan pangan dan inflasi.
Di pasar tradisional di Jakarta, harga beras mulai merangkak naik. “Harga beras naik sekitar 10-15% dalam sebulan terakhir. Kami khawatir ini akan terus naik jika panen gagal di mana-mana,” ujar Tati, seorang pedagang beras di Pasar Senen.
Respons Pemerintah dan Langkah Antisipasi
Menanggapi situasi ini, Kementerian Pertanian telah mengeluarkan peringatan dini kepada petani untuk memanfaatkan informasi cuaca dari BMKG secara real-time. “Kami mendorong petani untuk memantau prakiraan cuaca melalui aplikasi Info BMKG agar bisa mengambil keputusan tepat dalam mengelola lahan mereka,” ujar Kepala Biro Humas Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri.
Selain itu, pemerintah daerah juga diminta memperkuat sistem irigasi dan menyediakan bantuan benih serta pupuk bagi petani yang terdampak. “Kami sedang memetakan daerah-daerah rawan banjir dan kekeringan untuk mengambil langkah preventif,” tambah Kuntoro.
Suara Masyarakat: Butuh Bantuan Konkret
Di tengah situasi yang semakin memprihatinkan, masyarakat di daerah terdampak meminta bantuan konkret dari pemerintah. “Kami butuh bantuan benih dan alat pertanian untuk memulai lagi. Tanpa itu, kami tidak bisa bertahan,” ujar Ahmad, petani asal Subang.
Sementara itu, Maria dari NTT berharap pemerintah bisa membangun infrastruktur air yang lebih baik. “Kami butuh sumur bor atau waduk untuk mengatasi kekeringan. Kalau tidak, kami akan terus gagal panen,” katanya.
Kolaborasi Jadi Kunci Atasi Krisis
Cuaca ekstrem yang melanda Indonesia dalam sebulan terakhir telah menimbulkan dampak signifikan terhadap sektor pertanian. Jika tidak segera ditangani, ancaman krisis pangan dan kenaikan harga bahan pokok bisa menjadi kenyataan. Kolaborasi antara pemerintah, petani, dan lembaga terkait menjadi kunci untuk mengatasi tantangan ini dan memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga.